Bursa Eropa Naik, Dipicu Harapan Gencatan Senjata Ukraina dan Angka Inflasi AS
UbiNews, JAKARTA – Bursa saham Eropa menguat pada Rabu (12/3/2025) setelah melemah empat hari berturut-turut, didorong oleh optimisme atas kemajuan dalam konflik Ukraina-Rusia serta laporan inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan.
Melansir Reuters, Pada hari Kamis, tanggal 13 Maret 2025, indeks Stoxx Europe 600 berakhir naik 0,8% setelah menyelesaikan periode penurunan yang menjadi yang terlama sejak Desember 2024.
dukungan pasar meningkat setelah Amerika Serikat mengizinkan kelanjutan bantuan militer serta pembagian intelijen kepada Kiev, seiring dengan kesiapan Ukraina untuk mempertimbangkan tawaran gencatan senjata selama 30 hari bersama Rusia.
Inflasi di Amerika Serikat pada Februari 2025 Diperkirakan Masih Meningkat, Apakah Akibat dari Perang Dagang yang Dimulai oleh Trump?
Analis senior City Index Fiona Cincotta mengatakan perkembangan ini menciptakan optimisme, karena jika gencatan senjata dan potensi kesepakatan damai terwujud.
Cosita Cincotta mengatakan bahwa biaya energi di Eropa dapat menurun, yang akan berdampak positif terhadap ekonomi wilayah tersebut.
: Investor Menantikan Data inflasi AS, Harga Emas Turun
Mayoritas sektor di indeks Stoxx menunjukkan peningkatan, dengan bank dan sektor manufaktur memimpin kenaikan tersebut. Saham Zealand Pharma naik lebih dari 37% menyusul akuisisi Roche, perusahaan farmasi asal Swiss, atas hak terapis obesitas mereka yang bernilai hingga US$5,3 miliar.
Saham Roche sendiri naik 3,6%, mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua tahun, sementara indeks sektor kesehatan menguat 0,4%.
: The Fed Wanti-Wanti Kebijakan Trump Bisa Hambat Penurunan Inflasi AS
Akan tetapi, sektor ritel menghadapi tantangan dan berkurang 3%, terutama karena saham perusahaan induk Zara Inditex menurun 7,5% mulai tanggal 1 Februari akibat laporan kinerja kurang baik di kuarter tersebut.
Di sisi lain, saham Puma mengalami penurunan hingga 20% menuju titik terendahnya dalam waktu lebih dari delapan tahun karena perusahaan telah memperkirakan pendapatan kuartalan pertamanya di bawah ekspektasi pasar, hal ini turut berdampak pada sektor produk konsumen serta perlengkapan rumah tangga.
Data inflasi AS yang lebih rendah dari ekspektasi turut memberikan sentimen positif.
“Ini memberi The Fed sedikit lebih banyak fleksibilitas untuk mendukung ekonomi jika diperlukan dengan pemangkasan suku bunga. Namun, pergerakan pasar masih dibatasi oleh kekhawatiran terkait perang dagang dan resesi,” kata Cincotta.
Sekarang, pasar di Eropa anjlok sekitar 1,7% karena adanya keputusan dari Presiden AS Donald Trump yang menaikkan dua kali lipat tarif impor baja dan aluminium dari Kanada—walaupun aturan tersebut nantinya dicabut. Kanada membalas dengan memberlakukan tarif balasan, sedangkan Komisi Eropa menyatakan akan meluncurkan langkah serupa pada bulan mendatang.
Kebijakan perdagangan yang diterapkan oleh Trump masih menjadi penyebab fluktuasi untuk pasar dunia. Indeks S&P 500 di Amerika Serikat sudah mengalami penurunan nilai pasarnya sebesar US$4 triliun dibanding dengan puncaknya pada bulan lalu karena ketidaktentuan akan kebijakan ini.
Komentar
Posting Komentar