Harga Mahal Meremehkan Kesehatan Pada Usia Muda, Menyesal Di Kemudian Hari
Jangan pernah mengabaikan kesejahteraan fisik saat masih muda, banyak orang mengetahui rasa sesal ketika sudah tua akibat perilaku tidak sehat yang dilakukan.
UBINews Lutut kiri saya terasa nyeri luar biasa, membuat setiap langkah terasa menyiksa. Rasa sakitnya menjalar ke paha dan pergelangan kaki. Duduk atau berdiri tak memberi perbedaan bahkan es hanya meredakan sesaat.
Ini telah berlangsung cukup lama sejak terakhir kali saya mengalaminya, namun sebenarnya saya harusnya sudah memprediksikannya.
Pekan lalu, aku mulai mencoba untuk berlari lagi, secara bertahap. Kadang hanya beberapa kilometer yang kulalui, biasanya dengan kecepatan yang lebih mirip berjalan cepat dari pada berlari. Aku sangat menikmati ritme alami ini dan tidak ingin memaksa diriku sekeras dahulu.
Namun saat musimsemi datang, saya tidak dapat menahan diri untuk kembali keluar dan berlari. Bekerja dari rumah membuatku lebih menyadari nilai dari aktif bergerak.
Tetapi, menurut pendapatku, lari itu seperti sebuah pisau dengan dua sisi. Dahulu, aku tidak hanya mengikuti lomba untuk kesehatan tubuh tetapi juga sebagai cara untuk kabur dari rasa sakit dan emosi yang susah dikelola.
Saya terjebak dalam kecanduan olahraga, ditambah gangguan makan yang membayangi hidup saya.
Adakah gunanya mengutamakan kalori yang terbakar daripada waktu berkualitas dengan orang yang kita cintai? Adakah logis untuk merasa bersalah hanya kerana tidak melakukan satu kali latihan senaman?
Tentu saja bukan. Meskipun umurku masih muda, namun tubuhku merasakan kelelahan layaknya orang yang sudah lanjut usia. Aku kerap kali menyepelekan nasihat dari dokter serta terapis fisik untuk mulai mempelajari cara istirahat dengan baik. Bila tidak, ada kemungkinan besar aku akan menggunakan kursi roda sebelum genap berusia 30 tahun.
Tapi saya tak tahu bagaimana caranya berhenti. Yang saya tahu hanyalah terus berlari, sampai suara di kepala saya mengatakan sudah cukup setidaknya untuk hari itu.
Kini, meskipun saya lebih berdamai dengan tubuh saya, dampak dari masa lalu tetap terasa. Tubuh saya menanggung akibatnya.
Pinggul dan lutut saya terasa lemah, letih setelah bertahun-tahun diperlakukan melewati batasan. Saat ini, tubuhku berbicara, cukup sudah. Kami membutuhkan keseimbangan.
Sudah terima saja kalau sekarang saya nggak bisa lari kayak dulu-dulu. Tapi syukurlah masih ada banyak kegiatan yang bisa dinikmatin seperti yoga, pilates, jalan-jalan santai, mendaki gunung, dan juga bercocok tanam.
Tapi tiba-tiba, rasa sakit ini muncul. Saya tak yakin penyebabnya. Saya memang berlari minggu lalu, tapi tidak seintens dulu. Lutut saya membengkak begitu saja, tanpa peringatan.
Bahkan yoga terasa terlalu menyakitkan. Kini, lutut kanan saya juga mulai terasa nyeri karena saya cenderung mengandalkan satu kaki lebih banyak dari yang lain.
Saya sudah mencoba segalanya: es, pijatan, garam Epsom, terapi fisik. Namun, tubuh saya seakan menolak semua usaha saya.
Tentu saja, ada godaan untuk menyepelekan penderitaan ini. Terutama beberapa waktu lalu, saya memberi tahu pasangan saya tentang perasaan saya yang merasa bertambah berat badannya dan bagaimana tubuhnya belum benar-benar prima.
Ingat, jasadamu bukan segalanya tentang siapa kamu menurutnya. Ini adalah saran yang selalu kuberikan kepada orang lain. Tetapi, menerapkan prinsip itu untuk diriku sendiri tidak pernah sesederhana hanya dengan menyampaikannya.
apa kesimpulan yang dapat saya ambil dari pengalaman ini? Saya tidak bisa menghilangkan masa lalu. Bekas lukanya masih terdapat dan menyatu dengan cerita kehidupan saya.
Bisa jadi rasa sakit ini bukan hanya kesusahan biasa, tetapi juga suatu bentuk peringatan. Peluang bagi kita untuk berkembang dan memulihkan diri dengan cara yang lebih mendalam. (TribunSytle.com/Aris/yourtango.com)
Komentar
Posting Komentar