Mengapa Film "Snow White" 2025 Dicancel oleh Penonton Dunia?

Rilisan film berbasis cerita putri Salju (Snow White) dalam bentuk produksi dengan bintang langsung dari Disney yang direncanakan untuk diluncurkan pada tanggal 19 Maret 2025 sepertinya akan memerlukan perjalanan panjang dan menantang guna mencapai bioskop.

Sebaliknya dari sambutan yang hangat, film yang diperankan oleh Rachel Zegler dan Gal Gadot tersebut malah menimbulkan banyak kekecewaan di kalangan penonton dunia.

Deretan kontroversi yang menyertai proyek ini membuat sebagian besar masyarakat memilih untuk memboikotnya, bahkan sebelum film ini resmi tayang.

1. Alur Cerita yang Mengkhianati Harapan Penggemar

Salah satu faktor penting yang menjadi alasannya adalah Snow White 2025 menghasilkan ketidaksetujuan merupakan pergantian signifikan dalam alur ceritanya. Disney memilih untuk membawa kembali film Snow White dengan pendekatan yang lebih kontemporer, meninggalkan sebagian unsur tradisional yang telah dikenal oleh para penyuka setia.

Sutradara Marc Webb mengatakan bahwa film ini adalah "kesempatan untuk menceritakan mitologi Snow White yang disesuaikan dengan zaman sekarang."

Dalam wawancara dengan Variety, Rachel Zegler juga mengungkapkan bahwa asal usul nama Snow White di film ini berbeda dari versi animasinya yang terkenal.

Jika sebelumnya nama itu mengacu pada kulitnya yang seputih salju, kini Snow White dinamai karena ia selamat dari badai salju saat masih bayi.

Banyak pihak menganggap perubahan ini menghilangkan esensi dari kisah asli yang telah dikenal selama puluhan tahun.

2. Masalah Stereotip pada Tokoh Tujuh Kurcaci

Kontroversi lain muncul dari penggambaran karakter tujuh kurcaci. Aktor Peter Dinklage, yang populer berkat perannya dalam serial Game of Thrones, dengan tegas mengecam Disney atas keputusannya untuk tetap menggunakan stereotype lama tentang dwarfish atau penyandang disabilitas tinggi baduk.

Menurut laporan dari The Guardian pada tanggal 25 Januari 2022, Dinklage menggambarkan Disney sebagai " munafik " sebab mereka mencoba untuk membawa modernitas ke cerita Snow White namun masih mendeskripsikan para kurcaci hidup terpencil di dalam sebuah gua.

Menanggapi kritik ini, Disney sempat menyatakan bahwa mereka telah berkonsultasi dengan komunitas dwarfisme untuk menciptakan representasi yang lebih inklusif. Namun, bagi banyak pihak, usaha itu dirasa tidak cukup.

3. Pemilihan Pemeran Utama Picu Polemik

Keputusan Disney memilih Rachel Zegler sebagai Snow White juga menjadi sumber perdebatan. Rachel adalah aktris berdarah Kolombia yang memiliki kulit berwarna sawo matang.

Ini menimbulkan diskusi mengenai kesahihan representasi karakter Putri Salju, yang sudah lama dikenal sebagai gadis dengan kulit putih seperti salju.

Meskipun ada dukungan besar untuk keragaman di industri perfilman, beberapa penggemar menganggap pergantian ini tak cocok dengan sifat asli dari karakter tersebut.

Selain itu, keterlibatan Gal Gadot Sebagai Evil Queen, dia juga mendapat kritikan, terutama dari kalangan yang pro-Palestina.

Sebagai seorang warganegara Israel yang terkenal memperkuat dukungan kepada negaranya selama konflik dengan Palestina, Gal Gadot menghadapi boikot dari kalangan internasional.

Sebaliknya, Rachel Zegler dikenal sebagai pendukung Palestina dengan terbuka, sehingga kerjasama keduanya sering dipandang bertentangan oleh sebagian orang.

4. Ulasan Kritis Terhadap Perkataan Rachel Zegler Yang Memicu Kontroversi

Rachel Zegler pun menghadapi kritikan karena pernyataannya terkait film animasi Snow White yang dirilis pada tahun 1937.

Pada acara Disney’s D23 Expo pada tahun 2022, Zegler sempat berkomentar bahwa kisah-kisih asli dari Disney telah menjadi "kuno". Dia juga mendeskripsikan sang prangecinta sebagai "pemburu" lantaran mencium Snow White tanpa adanya izinnya.

"Anime asli dirilis pada tahun 1937 dan terlalu jelas nampaknya. Terdapat penekanan kuat pada cerita cinta antara wanita itu dan seorang pria yang sungguh stalking dia. Sangat ganjil," ucapnya, seperti dilansir dari New York Post (19/03/2025).

Pada edisi live-action tahun 2025 ini, tokoh Snow White direpresentasikan sebagai perempuan yang sangat mandiri dan tak lagi bergantung pada sang prajurit tampan untuk menolongnya.

Walaupun metode ini dianggap maju oleh beberapa pihak, banyak penggemar berpandapat bahwa pergantian tersebut malah menghilangkan unsur-unsur tradisional yang menjadikan cerita Putri Salju sangat disukai.

5. Premier Terbatas dan Sepi pada Acara Galanya

Semua kontroversi ini tampaknya berdampak besar pada promosi film. Disney hanya menggelar gala premiere secara tertutup di El Capitan Theatre, Hollywood, tanpa red carpet dan tanpa mengundang banyak media besar seperti biasanya.

Bahkan hingga kini, Disney belum memberikan penjelasan resmi mengenai keputusan tersebut. Hal ini semakin memperkuat kesan bahwa Disney tengah mencoba meredam potensi kritik yang lebih besar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Protest Erupts: Demonstrators Storm Education Ministry, Call for FUOYE VC's Suspension Over Sexual Harassment Claims