Tawaran Gencatan Senjata AS untuk Konflik Rusia-Ukraina: Isinya dan Respon Kiev
UbiNews , Jakarta - Lebih dari tiga tahun terjebak dalam konflik perang, sedikit cahaya mulai timbul untuk Ukraina. Gencatan senjata Perjanjian antara Rusia dan Ukraina bakal terwujud apabila Rusia setuju menyetujui usulan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Usulan tersebut mencakup ketentuan mengenai implementasi gencatan senjata total sepanjang 30 hari.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dan Kepala Staf Presiden Ukraina Andriy Yermak bertemu dalam diskusi intensif di Jeddah, Arab Saudi pada tanggal 11 Maret 2025. Pertemuan itu melibatkan juga seorang wakil dari Ukraina. Saat itu, Pompeo menyampaikan penawaran gencatan senjata berdurasi satu bulan ke Rusia—yang sudah mendapat persetujuan dari sisi Ukraina.
Rapat tersebut berhasil menstabilkan kembali hubungan yang sempat tegang usai pertemuan di Ruang Oval Gedung Putih. Amerika Serikat sudah melepas sanksi atas bantuan militer serta berpartisipasi dalam sharing informasi rahasia dengan Ukraina dan bakal menjalin dialog dua arah dengan Rusia. Menteri Luar Negeri Rubio menyatakan bahwa pemerintahan AS siap untuk melayangkan tawaran kesepakatan bersama kepada Rusia, dan saat ini giliran Moskow untuk bertindak.
Sebagaimana diwartakan oleh The Guardian Kyiv bersiap untuk menerima gencatan senjata selama 30 hari usai AS menyatakan niatnya menarik kembali suspensi bantuan militer serta pembagian informasi intelijen sebagai hasil dari perselisihan yang pernah pecah di Gedung Putih itu.
Ukraina menyatakan siapnya mereka untuk mengambil tawaran cease-fire jangka pendek sekitar 30 hari, yang bisa diperpanjang apabila ada persetujuan bersama dari kedua pihak terlibat.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, dalam pidato video malam harinya, mengatakan bahwa AS mengusulkan gencatan senjata sementara penuh, menghentikan serangan rudal, drone, dan bom, tidak hanya di Laut Hitam, tetapi juga di sepanjang garis depan. "Ukraina siap menerima proposal ini—kami melihatnya sebagai langkah positif dan bersedia menerimanya," ujar Zelensky.
Di samping itu, pada hari Selasa malam, petugas pemerintah Ukraina menyampaikan bahwa pertukaran informasi dan dukungan sudah ditingkatkan. Pada pernyataan yang disepakati bersama, keduanya juga menyetujui untuk cepat menyelesaikan perjanjian mendetail tentang pengembangan cadangan mineral vital di Ukraina.
Perjanjian tentang sumber daya mineral yang sudah berlangsung selama beberapa minggu tiba-tiba menjadi tidak pasti usai pertemuan bilateral yang tak menyenangkan di gedung White House pada tanggal 28 Februari. Pertemuannya adalah antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump—yang sebelumnya pernah meragukan bantuan ke Ukraina—with dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
Baik pihak maupun lainnya menyepakati bahwa usaha bantuan humaniter seharusnya merupakan elemen esensial dalam mendukung jalannya proses perdamaian, terlebih selama masa gencatan senjata, meliputi pertukaran tawan peperangan, peliberasan narapidana sipil, serta repatriasi anak-anak dari Ukraine yang telah dipindahkan dengan paksa.
Dikutip dari Antara , utusan khusus Presiden AS Donald Trump untuk Timur Tengah Steve Witkoff dijadwalkan mengunjungi Moskow akhir pekan ini. Kunjungan tersebut melanjutkan pembahahasan proposal gencatan senjata Rusia Ukraina selama 30 hari dengan pejabat Rusia yang bertujuan menghentikan perang di Ukraina, sebagaimana dikonfimasi Gedung Putih pada Rabu, 13 Maret 2025.
Ida Rosdalina berkontribusi dalam artikel ini.
Komentar
Posting Komentar