Vietnam Beraksi di Era Perang Dagang: Menghidupkan Kembali "Make America Great Again"

UbiNews , JAKARTA - Seorang pejabat senior dari bidang perdagangan di Vietnam berencana melakukan perjalanan ke Amerika Serikat guna mempengaruhi anggota tim Presiden Donald Trump dengan tujuan agar Vietman terhindar dari penerapan tariff impor yang meningkat.

Negara bersangkutan berkomitmen untuk merevisi kebijakan perdagangannya dengan Amerika Serikat demi mencegah penerapan tariff baru yang bisa mempengaruhi stabilitas ekonomi Vietnam, negara yang bergantung pada sektor ekspornya.

Melansir Bloomberg pada Kamis (13/3/2025), Menteri Perdagangan Nguyen Hong Dien akan bertemu dengan Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick, serta Perwakilan Dagang AS, untuk membahas perjanjian perdagangan bilateral. Sumber Bloomberg yang meminta untuk tidak disebutkan namanya menyebut diskusi bilateral akan mencakup kesepakatan energi, pencegahan penipuan asal produk, dan penghindaran tarif.

Ada Bantuan Tunai Remaja di Thailand, 2,7 Juta Orang Generasi Z Mendapat Dana Sebesar Rp4,8 Juta

Sebagaimana dikenali, Amerika Serikat (AS) memiliki defisit dagang senilai US$123,5 miliar dengan Vietnam pada tahun 2024, sesuai laporan dari Kantor USTR. Defisit besar ini mendapat perhatian serius bagi AS dalam konteks prioritas America First milik Trump. Di bawah skema tersebut, penerapan tarif impor yang lebih tinggi dipandang sebagai langkah untuk membenahi apa yang diyakini merupakan praktik perdagangan yang merugikan.

Defisit dagang Amerika Serikat dengan Vietnam berada di posisi ketiga terbesar, sesudah China dan Meksiko. Salah satu faktor penyebabnya adalah banyak perusahaan Tiongkok menggunakan Vietnam sebagai jalur untuk mengelakkan bea masuk.

: Proses Pembelian Saham Bank Victoria Syariah yang Dimiliki oleh VICO Dibongkar Oleh CEO BTN (BBTN)

Vietnam mengungguli Jepang menjadi pembeli terbesar ketiga dari Cina untuk pertama kali pada tahun 2024, menjadikannya pemain utama dalam perselisihan ekonomi antara dua kekuatan besar ini.

Vietnam mencantumkan China dan AS sebagai dua mitra dagang utamanya dan berupaya menjaga hubungan baik dengan keduanya, yang menguntungkan ekonominya. Negara Asia Tenggara tersebut merupakan salah satu dari sejumlah negara yang mengirim utusan ke AS untuk meminta pengecualian dari kemungkinan tarif.

: Korea Waswas Banjir Baja Impor Setelah Amerika Terapkan Bea Masuk Tinggi Secara Global

"Pertanyaannya adalah apa yang sebenarnya diinginkan AS dari Vietnam," kata Le Hong Hiep, seorang peneliti senior di Program Studi Vietnam di ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura. Ini dapat mencakup kerja sama dalam produksi tanah jarang, imbuh Hiep.

Vietnam menyandang gelar sebagai negara dengan stok mineral langka terbanyak kedua global setelah Tiongkok, mencapai kira-kira 22 juta ton, berdasarkan data dari Badan Survai Geologi Amerika Serikat.

Mineral tersebut mendapat perhatian besar lantaran Trump menginginkannya dari Ukraina dengan harapan menerima balasan berupa dukungan AS untuk Kiev ketika negara itu bertarung melawan serbuan tentara Rusia. Tanah jarang adalah salah satu sumber daya alam terpenting di Bumi, dan mereka memiliki peranan krusial dalam teknologi yang mensupport gaya hidup modern.

Vietnam pun mencoba meredakan pemerintahan Trump dengan berjanji akan membeli barang-barang bernilai tinggi dari AS seperti pesawat terbang, gas alam cair, serta produk teknologi maju.

Perdana Menteri Pham Minh Chinh telah mendesak para pejabatnya untuk memberikan lampu hijau bagi layanan satelit Starlink milik Elon Musk dan bahkan mengatakan bahwa dia bersedia bermain golf sepanjang hari dengan Trump jika itu akan membantu.

Pada bulan lalu, Vietnam menyampaikan bahwa negara tersebut "bersedia membuka pasar-nya" untuk produk-produk dari Amerika Serikat serta menerima investasi dari perusahaan-perusahaan AS yang ingin terlibat dalam sektor energi dan pertambangan.

Perjanjian untuk membeli LNG dari Amerika Serikat sudah menjadi topik pembahasan selama beberapa dekade, lantaran negeri itu mencoba untuk meninggalkan jenis energi fosil yang lain. Meski begitu, apabila perjanjian berhasil dicapai, kemungkinannya masih adanya keterlambatan sebelum Vietnam bisa dimulainya impor LNG dari AS disebabkan oleh hambatan-hambatan dalam hal logistik dan fasilitas infrastrukturnya.

Potensi peningkatan impor sektor peternakan dan pertanian di Amerika Serikat pun ikut dipertimbangkan. Vietnam berperan sebagai salah satu pembeli terbesar bagi hasil produksi pertanian Amerika, dengan negara tersebut mengimpor produk-produk seperti daging sapi, biji-bijian kedelai, serta lebih dari dua juta kotak apel asal Amerika setiap tahunnya, demikian disampaikan oleh departemen perdagangan beberapa waktu lalu.

Dengan peningkatan konflik perdagangan antara pemerintah Trump dan Beijing, Amerika Serikat mungkin akan mencoba memperkuat kerjasama guna menangani ancaman dari Tiongkok, misalnya dengan mendapatkan akses yang lebih luas ke instalasi Angkatan Laut Vietnam di Laut Cina Selatan.

"Hal ini bisa saja berarti mereka menginginkan Vietnam membeli persenjataan dari Amerika Serikat. Ini sesuai dengan kebijakan AS yang bertujuan menahan pengaruh China, walaupun Vietnam masih ingin menjaga hubungan harmonis dengan Tiongkok," jelas Hiep.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Protest Erupts: Demonstrators Storm Education Ministry, Call for FUOYE VC's Suspension Over Sexual Harassment Claims