Wall Street Lesu karena Ancaman Tarif Trump, Namun Data Inflasi Mengurangi Kekhawatiran

UbiNews.CO.ID -  NEW YORK. Indeks saham utama Amerika Serikat (AS) merosot pada Kamis (13/3) setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana pengenaan tarif impor terhadap Uni Eropa. Sentimen investor tertekan meskipun data inflasi yang melandai memberikan sedikit kelegaan.

Mengutip Reuters Pada pukul 09.51 waktu lokal, Indeks Dow Jones Industrial Average mengalami penurunan sebesar 174,90 poin atau 0,42%, mencapai angka 41.176,03. Sedangkan S&P 500 berkurang 28,94 poin atau 0,52% menjadi 5.570,36, dan indeks Nasdaq Composite jatuh 142,66 poin atau 0,81% hingga 17.505,79.

Indeks S&P 500 mencatatkan diri hampir mengalami penurunan seminggu yang menjadi periode terlama dalam tujuh bulan.

Trump mengumumkan bahwa dia akan menetapkan tarif sebesar 200% untuk semua barang yang diimpor dari Eropa ke Amerika Serikat bila Uni Eropa tak membatalkan bea ekstra pada whiskynya. Terlebih dahulu, Trump telah mengancam bakal menjatuhkan sanksi kepada UE apabila pihak tersebut melaksanakan tarif pembalasannya terhadap hasil produksi AS mulai bulan berikutnya.

Wall Street Mengalami Peningkatan Berkat Kenaikan Saham Apple dan Data Inflasi yang Sesuai Dengan Harapan

Saham perusahaan minuman Amerika Serikat malahan meningkat, di mana saham Brown-Forman bertambah 1,6%, Molson Coors bertambah 0,3%, serta Constellation Brands bertambah 0,9%.

"Kebijakan yang tak konsisten dari Gedung Putih membuat para investor merasa sulit untuk menyusun strategi investasi dengan baik," kata Peter Andersen, pendiri Andersen Capital Management.

Saham mengalami ketidakstabilan karena kebijakan perdagangan Trump dianggap sulit ditebak, menimbulkan keprihatinan akan kemungkinan adanya inflasi dalam negeri serta penghambat bagi perkembangan ekonomi.

Beberapa perusahaan bahkan memberikan proyeksi yang lebih hati-hati. Dollar General, misalnya, memperkirakan pertumbuhan penjualan tahunan di bawah ekspektasi, meskipun sahamnya naik 4,5% berkat laporan keuangan kuartal yang positif.

Sektornya konsumen yang bersifat pilihan mengarahkan pengurangan indeks S&P 500 sebesar 1,8%. Saham Tesla merosot 3,6%, sementara saham Amazon.com menurun 1,8%.

Wall Street Menguat, Fokus Investor Beralih ke Data Inflasi dan Rilis Kinerja Emiten

Sementara itu, data inflasi memberikan sedikit optimisme. Harga produsen tercatat tidak mengalami perubahan pada Februari, dan klaim pengangguran mingguan lebih rendah dari perkiraan. Namun, pasar tetap waspada dengan potensi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve sekitar 75 basis poin pada paruh kedua tahun ini.

"Data tersebut menggambarkan pola dasar sebelum tariff diberlakukan, dan paling tidak kita sudah mulai dengan kondisi yang lebih baik," ujar Chris Zaccarelli, Kepala Investasi di Northlight Asset Management.

Pasar turut mengawasi batas waktu untuk penyetujuan RUU pembiayaan di Senat Amerika Serikat. Apabila mendapat persetujuan, undang-undang ini akan menjamin kelangsungan operasional pemerintah sampai tanggal 30 September.

Di antara saham lainnya, Intel melonjak 15,7% setelah menunjuk Lip-Bu Tan sebagai CEO baru. Adobe turun 10,9% karena proyeksi pendapatannya sesuai dengan ekspektasi.

Wall Street Turun, Powell Meredam Harapan Pemangkasan Suku Bunga pada Desember

Pada saat yang sama, harga saham Paccar menurun 2,8%, sementara saham Cummins mengalami penurunan 1,5%. Hal ini terjadi setelah Badan Perlindungan Lingkungan berusaha untuk membatalkan peraturan tentang emisi kendaraan yang dikeluarkan oleh pemerintah sebelumnya.

Di Bursa New York atau NYSE, jumlah saham yang merosot lebih besar daripada saham yang naik dengan perbandingan sebesar 1,11 ke 1. Sedangkan di Nasdaq, proporsinya adalah 1,29 ke 1. Indeks S&P 500 melacak penurunan hingga 11 kali pada level terendah selama 52 minggu belakangan ini, sedangkan Nasdaq menandai penurunan harga sampai 84 kali serta adanya kenaikan menjadi sembilan tingkat tertingginya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Protest Erupts: Demonstrators Storm Education Ministry, Call for FUOYE VC's Suspension Over Sexual Harassment Claims