Air Minum Gratis di Bandara Hilang, Namun Kisah Inspirasi Tetap Berlanjut

Idul Fitri kali ini dirasakan dengan nuansa yang baru. Umumnya, aku akan berkumpul dan merayakannya di Puncak, Bogor, serta turut serta dalam aktivitas gerejaku yang telah jadi tradisi setiap tahun.

Kesejukan udara di perbukitan, gemerlap keriuhan keterikatan dalam beribadah, semuanya tercatat sebagai momen yang paling saya rindukan.

Tetapi, pada tahun ini nasib membimbing saya menuju jalan yang berbeda—perjalanan tidak terduga ke sebuah desa terpencil di wilayah Sulawesi Tengah.

Pengembaraan ini dimulai dengan undangan seseorang. Pastor Joshua Low, yang merupakan seorang imam asli dari Malaysia, meminta saya untuk datang ke Desa Korowou di Morowali Utara.

Pertamanya, saya penasaran, terjadi apa di situ? Tetapi, saya langsung memahami. Nyonya Pastor Joshua, Bunda Etmi Taungke, tengah berada di kampung itu bersama bapaknya, Pendeta Singgo Taungke.

Mereka merupakan elemen signifikan dalam narasi kehidupan dan pelayanan Pastor Joshua, yang sedang saya rangkai dalam sebuah buku biografi.

Saya diharuskan untuk berjumpa dengan mereka, mengetahui secara langsung kisah-kisah yang masih belum tersingkap, merenungi lebih jauh tentang petualangan kehidupan si pastor tersebut.

Maka, pada Selasa, 1 April, saya memulai perjalanan saya. Dari rusun Pasar Rumput, saya menuju Stasiun Manggarai, lalu menaiki KA Bandara pukul 19.00.

Meski malam masih terbilang dini, saya memutuskan untuk pergi lebih cepat supaya tidak kewalahan dengan jam.

Penerbangan saya menuju Palu ditetapkan pada jam 02.30 WIB, dan saya tidak berharap adanya hal-hal yang bisa menyebabkan keterlambatan diri saya.

Bandara Soekarno-Hatta menyambut saya dengan gemerlap lampunya. Langkah saya mantap memasuki terminal 2, menuju loket digital untuk check-in secara online melalui website Batik Air.

Sejenak, saya tersenyum. Kemajuan teknologi memang membuat segalanya lebih mudah.

Sudah menyelesaikan segala sesuatu, aku berjalan ke area tunggun dengan lewat Gerbang D1 dan mengikuti pemeriksaan yang telah jadi aturan tak terelakkan itu.

Koper dan tas laptop saya dinyatakan aman, dan saya dipersilakan masuk.

Di ruang tunggu, hanya ada satu penumpang lain yang tertidur lelap.

Saya mencari sudut yang nyaman, memasang ponsel ke charger, membiarkan baterainya terisi penuh sebelum penerbangan panjang.

Tak lupa saya mengabari istri, memastikan dia tahu saya sudah sampai di sini. Dia terkejut, tak menyangka saya bisa check-in secepat itu.

Saya sendiri juga heran, tapi tak ingin memikirkannya terlalu dalam. Yang penting, semuanya lancar.

AC di ruang tunggu begitu dingin, menusuk hingga ke tulang. Untunglah saya membawa jaket, setidaknya bisa sedikit menghangatkan tubuh.

Perlahan, ruang tunggu mulai terisi. Tiga orang penumpang lain sudah duduk di depan saya. Salah satunya mendekat dan bertanya,

"Ke Makassar ya?"

"Bukan, Pak. Saya ke Palu."

Ia bercerita bahwa penerbangannya ke Makassar dijadwalkan pukul 23.00, tapi hingga pukul 22.30 belum ada panggilan.

Dia memutuskan untuk berpindah ke Gerbang D4 demi mendapatkan kejelasan. Saya menganggukkan kepala, berdo'a agar tidak menemui nasib serupa dengannya.


Di belakang jendela besar di area waiting room yang berwarna gelap, saya menyaksikan sebuah pesawat baru saja mendarat. Para penumpang mulai meninggalkan kapal terbang secara berturut-turut sambil mengepakkan sayap mereka ke bawah.
(Note: There seems to be an error with the sentence "melangkah menuju tangga turun" as aircrafts do not have stairs going down but usually ramps or airstairs. I've adjusted this part accordingly.)

Saya mengungkapkan pikiran saya. Batik Air. Adalah ini kapal terbang yang akan mengantarkan saya ke Palu? Saya tidak yakin, tetapi saya berdoa iya.

Tiba-tiba, dahaga menyerang secara mendadak. Baru kemudian saya mengerti bahwa dari tadi tidak meminum apapun sama sekali.

Saya berbalik dan mencari dispenser air minum, tetapi tidak berhasil menemukannya.

Sepertinya haus ini merupakan tantangan kecil sebelum perjalanan panjang itu. Akhirnya, saya pun menanyakan hal tersebut pada salah satu petugas.

Mbak, kalau ada air minum yang gratis, itu di mana ya?

"Di depan D6, Pak. Tetapi tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah meninggal," katanya.

Saya berdebar. Di sebuah bandara besar seperti ini harusnya ada sumber air minum di tiap area tunggu.

Meski begitu, bagaimana pun juga? Hanya tersisa rasa dahaga di tenggorokan ini. Di sampingku terdapat toko kecil yang tertutup. Tidak ada alternatif lain.

Saya tersenyum kecil. Mungkin, ini ironi kecil dari perjalanan saya kali ini---tak ada seteguk air, tapi ada begitu banyak kisah yang akan mengalir.

Malam semakin larut. Saya hanya berharap penerbangan ini berjalan lancar. Palu dan Morowali Utara menanti.

Saya tak sabar untuk mengeksplorasi keduanya dan bertemu dengan mereka yang akan melengkapi kisah yang sedang saya tulis.

Semoga, perjalanan ini menjadi awal dari cerita yang lebih besar, lebih bermakna.

Bersambung..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Protest Erupts: Demonstrators Storm Education Ministry, Call for FUOYE VC's Suspension Over Sexual Harassment Claims