Cerita Orang-orang yang Tidak Kembali ke Rumah di Jakarta

Bukan setiap orang dapat menikmati kumpul bersama keluarga di Idul Fitri tahun 2025. Ada juga yang masih bertarung melawan untuk memperoleh penghidupan ketika kebanyakan orang tengah mengambil cuti. Siapakah mereka?

Cerita Supir Tol yang Gagal Pulang Kampung Saat Idulfitri: Tidak Mendapatkan Tunjangan Hari Raya dan Keuangan Terbatas

Afrizal (64 tahun), seorang pengemudi Jaklingko, tidak berhasil pulang kampung ke Bukittinggi, Sumatra Barat, karena ia belum menerima tunjungan hari raya (THR). Dia mengatakan bahwa gajinya yang rendah sebagai supir tidak mencukupi untuk biaya perjalanan tersebut.

Secara otomatis, mereka yang tidak pulang kampung tentu akan kekurangan uang. Bekerja sebagai supir Jaklinko bisa dibilang cukup sulit dan pas-pasan," katanya ketika ditemui di depan rumah Wakil Gubernur Jakarta, Rano Karno, di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, pada hari Selasa (1/4).

"Maka jangan mudik saja. Ada banyak tanggungan dan kami masih menyewa tempat tinggal. Untuk anak-anak syukur Alhamdullilah sudah tidak ada yang sekolah lagi. Kami tetap menyewa rumah. Sehingga sulit bagi kami membayar sewa dan biaya harian. Maka kami tidak dapat pulang ke desa," lanjutnya.

Afrizal mengaku biasa mudik ke kampung halaman menggunakan bus. Dia menghabiskan uang sebesar Rp 5 juta rupiah untuk pulang-pergi Jakarta-Bukittinggi bersama istrinya.

Afrizal menjelaskan, bahwa pekerjaannya tak seperti karyawan lainnya yang mendapatkan THR dengan nominal yang pasti dari perusahaan.

Cerita tentang Penjual Kue di Tanah Kusir yang Berkorban dengan Tidak Mudik untuk Mencari Nafkah

Di hari pertama setelah Lebaran, Rabu (1/5), Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir tetap ramai dikunjungi jemaah ziarah. Asep menghampiri kereta kecil miliknya dan diselimuti oleh kabut halus hasil pembakaran arang, digunakan untuk memanggang kue cubit.

Asep, seorang pedagang dari Garut, telah menetap di Jakarta selama 27 tahun. Dia memutuskan tidak pulang kampung dan tetap menjual daganganannya pada hari Idul Fitri.

Sejumlah konsumen tampak berkunjung untuk berbelanja, sementara itu banyak di antara para remaja kelihatan tertarik pada wangi manis yang menyengat dari produknya.

Pada momen seperti Lebaran ini, Asep selalu dapat rezeki melimpah. Ia bisa mengantongi omzet Rp 1 juta sehari.

“Kalau lebaran ada, lah, (satu juta), tergantung bawanya kemarin kan bawanya (adonan) 9 kilo. Hari ini 7 kilo,” kata Asep sambil membolak-balik adonan di cetakan besinya, Selasa (1/4).

Asep jeli melihat peluang. Ia tahu TPU Tanah Kusir selalu ramai saat Lebaran. Maka ia menambah adonan yang ia bawa. Sebab, sehari-hari ia hanya membawa 3-4 kilo adonan.

Cerita Letda Lutfi, Relakan Momen Lebaran dengan Keluarga Demi Misi di Myanmar

Letda Lutfi Firdiansyah dengan lugas menanggapi 'sedia!' sementara merespons genggamannya dari Wamenhan Donny Ermawan Taufanto di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, pada hari Senin (31/3).

Dia merupakan salah satu dari 39 anggota TNI yang ditempatkan dalam misi bantuan penanganan akibat guncangan gempa di Myanmar. Lutfi bertindak sebagai Danton atau Detachment Commander dari Batalion Infanteri 305/Tengkorak.

Untuk menyelesaikan tugasan tersebut, dia terpaksa mengorbankan liburan panjangnya, meninggalkan istrinya dan kedua putra mereka yang masih kecil di Bandung.

Sekadar kebetulan, kita berada dalam masa libur gelombang pertama, yaitu mulai tanggal 27 hingga tanggal 1 April. Namun karena diperintahkan untuk menjalankan misi bantuan manusia, kami pun mengakhiri liburan lebih awal," katanya setelah apel persiapan tim.

Sebenarnya, pada hari Minggu (30/3), dia telah ada di Bandung. Dia segera menuju Jakarta setelah mendapat tugas, tepatnya saat malam penghormatan takbir.

Lutfi menunjukkan bahwa istrinya tidak mempermasalahkan tugas tersebut. Menurutnya, sang istri telah terbiasa dengan hal seperti ini.

Sudirman-Thamrin Masih Tenang, Masyarakat Memanfaatkannya untuk Aktivitas Olahraga dan Berburu Foto

Pada hari kedua Idul Fitri 1446 Hijriah atau Senin, 1 April 2025, jalan-jalan sepanjang Jenderal Sudirman-M.H. Thamrin tetap terlihat sepi dari kendaraan. Warga banyak mengambil kesempatan ini untuk melakukan aktivitas seperti jogging, bersepeda, bahkan berswafotografi di area Bundaran HI.

Pemantauan oleh UbiNews pada pukul 08:22 WIB menunjukkan bahwa jalan Jenderal Sudirman menuju Bundaran Senayan terlihat sangat lengang. Di sisi lain, kondisinya di area yang menuju Bundaran HI juga hampir serupa.

Di sepanjang jalan terdapat jumlah besar pejalan kaki dan pengendara sepeda yang berlalu-lintas. Tidak sedikit pula warga yang melakukan joging secara perlahan di tepi jalan.

Para pesepeda juga meneruskan perjalanannya dalam bentuk kelompok. Mereka berkendara bersama-sama dan dengan cepat menembusi area jalan Jenderal Sudirman.

Kepadatan masyarakat baru terasa di Bundaran HI. Terpantau begitu banyak kegiatan yang dilakukan di sana.

Beberapa masyarakat tampak asyik berfoto dengan latar Bundaran HI. Adapula komunitas fotografer yang memanfaatkan sepinya Jakarta untuk bersilaturahmi dan berburu foto bersama.

Padepokan Bolos Gawe menggelar acara fotografi di sekitaran Bundara HI bersama salah satu merek kamera ternama. Lebih dari dua ratus peserta hadir guna menangkap momen dengan sang model berasal dari Brasil tersebut.

Rano Karno Bahas Penurunan Jumlah Orang yang Kembali ke Jakarta: Berbagai Sebab Adanya

Gubernur Jakarta, Rano Karno, mengatakan bahwa terdapat pengurangan dalam jumlah orang yang pulang kampung dari Jakarta saat perayaan Lebaran Idul Fitri 1446 H/2025. Penyempitan ini dapat diamati melalui total Kendaraan yang keluar dari Kota Jakarta selama masa mudik.

"Baik kita pantau saja, Alhamdulillah. Sebenarnya angkutan berkurang, ini bisa jadi pertanda bahwa mungkin tidak banyak orang yang mudik," ujar Rano saat ditemui di Warung Bang Doel, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, pada hari Selasa (1/4).

Akan tetapi, Rano belum dapat menentukan alasan utama di balik pengurangan jumlah pemudik itu.

"Mengapa demikian? Bisa jadi disebabkan oleh masalah ekonomi, atau mungkin mereka hanya ingin merayakan Lebaran di Jakarta. Ada berbagai faktor," katanya.

"Belum ada laporan namun jika kita mempertimbangkan opsi mudik secara gratis, kami dapat mengoperasionalkan sekitar 650 bus untuk membawa lebih dari 22 ribu orang, atau setara dengan 26 ribu individu. Lebih baik lagi, kami menawarkan fasilitas perjalanan pulang-pergi; yaitu mereka akan kembali ke desanya masing-masing dan kemudian kembali lagi ke Jakarta," jelasnya.

Namun demikian, Rano mengungkapkan rasa syukurnya karena jumlah orang yang mudik berkurang pada tahun ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Protest Erupts: Demonstrators Storm Education Ministry, Call for FUOYE VC's Suspension Over Sexual Harassment Claims