Hindari Serangan Tarif Trump, Thailand Siap Tingkatkan Impor dari AS
UbiNews , JAKARTA — Pemerintah Thailand bertekad meningkatkan impor produk energi dan pangan dari Amerika Serikat (AS) demi memangkas surplus perdagangan dengan negara tersebut.
Langkah ini merupakan antisipasi Thailand atas kebijakan tarif Presiden Donald Trump terbaru yang akan diumumkan pada Rabu (2/4/2025) waktu AS atau Kamis (3/4/2025) pagi waktu Asia. Kebijakan ini berpotensi menyasar negara-negara penyumbang defisit terbesar bagi AS, tak terkecuali Thailand.
Mengutip Bloomberg Pemerintah Thailand memperkirakan bahwa peningkatan tariff sebesar 11% bisa berdampak pada ekspornya ke Amerika Serikat yang mencapai angka hingga US$8 miliar.
Harga Emas Dunia Tembus Rekor Seiring Menjelang Pengumuman Tarif oleh Trump
Sekretaris Tetap di Kementerian Perdagangan Thailand, Vuttikrai Leewiraphan, menyebutkan bahwa pemerintah yang dipimpin oleh Perdana Menteri Paetongtarn Shinawatra sudah merancang taktik guna mengantisipasi kebijakan tariff balasan tersebut. reciprocal tariff yang direncanakan untuk diungkapkan Trump pada hari Rabu.
Pada konferensi pers yang digelar di Bangkok pada hari Rabu, 2 April 2025, ia menyampaikan bahwa Thailand berencana menggunakan strategi "terpadu" untuk perundingan perdagangan agar dapat meredam pengaruhnya terhadap ekonominya.
: Fed Wanti-wanti Dampak Tarif Trump Terhadap Inflasi dan Konsumsi
Menurut data yang dikeluarkan oleh Kantor Perwakilan Dagang AS (US Trade Representatives/USTR), surplus perdagangan Thailand dengan AS mencapai US$45 miliar pada 2024. Berbeda dengan Vietnam dan India yang telah menurunkan pajak impor terhadap produk-produk AS untuk mengurangi defisit perdagangan mereka, pemerintahan Paetongtarn memilih untuk menunggu pengumuman resmi dari AS sebelum mengambil langkah negosiasi.
AS adalah pasar ekspor terbesar bagi Thailand. Produk elektronik, mesin, dan hasil pertanian mendominasi daftar barang yang dikirim Thailand ke negara tersebut. Namun, dengan meningkatnya tarif AS terhadap produk-produk China, kelompok bisnis di Thailand memperingatkan bahwa ekonomi terbesar kedua di Asia Tenggara ini juga berisiko mengalami banjir barang murah dari negara tetangganya itu.
: Pemain Pasar Menyongsong Keputusan Tarif dari Trump, Apakah Obligasi Pilihan yang Lebih Baik?
Rencana Trump untuk menerapkan tariff balasan saat ini sudah hampir selesai. Dilaporkan timnya masih menyelesaikan jumlah dan jangkauan dari bea baru yang akan diumumkan tersebut.
Thailand diproyeksikan sebagai negara dengan dampak terbesar dari kebijakan tariff Trump di kawasan ASEAN dikarenai oleh paparan luasnya terhadap dua sektor yang paling rawan terhadap balasan tariff, yaitu pertanian dan transportasi.
Berdasarkan data dari Nomura Holdings Inc., tingkat tarif efektif berbobot untuk Thailand atas barang impor dari Amerika Serikat adalah sekitar 6,2%. Sementara itu, tarif yang diberlakukan oleh Amerika Serikat terhadap produk-produk asli Thailand hanya sebesar 0,9%.
"Perusahaan-perusahaan dari Thailand yang bergerak dalam bidang makanan dan energi berniat menambah investasi mereka di Amerika Serikat, khususnya di daerah-daerah yang dikendalikan oleh Partai Republik," jelas Vuttikrai. Hingga saat ini, total invesasi perusahaan asal Thailand ke AS sudah mendekati angka US$17 miliar dan telah menghasilkan lebih kurang 11.000 pekerjaan baru.
Di luar peningkatan impor dari Amerika Serikat, pihak berwenang Thailand pun sudah merancang sejumlah rancangan, seperti pengurangan bea masukan untuk bermacam-macam barang-barang AS dan implementasi kebijakan non-tarif yang masih dirahasiakan.
Vuttikrai menyebutkan bahwa peningkatan tariff oleh Amerika Serikat terhadap besi dan alumunium mempengaruhi kirimannya dari Thailand karena adanya pembatalan pesanan baru. Di masa mendatang, kata dia lagi, negara tersebut akan mengerjakan diversifikasi di sektor ekspor guna meredam efek dari kebijakan tarif AS.
Komentar
Posting Komentar