Memaafkan pada Idul Fitri: Menjelajahi Psikologi di Balik Tradisi Pengampunan

UbiNews , Jakarta - Hari Raya Idul Fitri atau yang biasa dikenal sebagai Lebaran identik dengan tradisi mudik, silaturahmi, serta yang paling penting—tradisi saling bermaafan.

Sejak gema takbir berkumandang, umat Islam dianjurkan untuk kembali kepada fitrah, termasuk dengan menghapuskan segala kesalahan dan dendam yang pernah terjadi di masa lalu.

Perayaan Maafan Selama Hari Raya Idul Fitri

Dilansir dari laman Universitas Gadjah Mada , memaafkan dalam konteks Idul Fitri Bukan hanya lambang keagamaan, namun juga menjadi sebagian penting dari norma sosial yang terpatri erat dalam tradisi masyarakat.

Konsep fitrah dalam Islam, yang menggambarkan keadaan bersih sejak dilahirkan, merupakan landasan pokok dari tradisi tersebut. Akan tetapi, hasil studi menunjukkan bahwa tidak setiap individu dapat dengan tulus memberikan pengampunan atau minta maaf ketika diterapkan dalam kenyataan hidup.

Dalam beberapa studi psikologi, ditemukan bahwa hanya segelintir orang yang benar-benar memaafkan dengan tulus. Sebagian lainnya hanya menjalankan tradisi ini sebagai bentuk formalitas atau praktik keagamaan, sementara sebagian lainnya memilih untuk melupakan kesalahan yang terjadi tanpa benar-benar memaafkan (forgiving vs. forgetting). Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk masih adanya kemarahan yang terpendam, trauma, atau dampak buruk dari pengalaman tersebut.

Psikologi di Balik Konsep Memaafkan

Berdasarkan informasi dari sumber yang sama, istilah pengertian "maaf" atau forgiveness di bidang psikologi pertamakali dikemukakan oleh Enright, Santos, dan Al-Mabuk pada tahun 1989. Definisi mereka tentang memaafkan adalah sebuah proses rumit yang mencakup elemen-elemen emosi, pemikiran, tindakan, dan hubungan antar manusia. Dalam konteks psikologis, memaafkan bukan sekadar menghilangkan kesalahan orang lain, namun juga melibatkan kapabilitas individu untuk melepaskan perasaan buruk dan menempatkannya dengan rasa simpati serta penghargaan terhadap orang tersebut.

Worthington (2003) kemudian mengembangkan teori yang membagi konsep memaafkan menjadi dua tipe utama:

- Decisional Forgiveness: Keputusan sadar seseorang untuk bersikap baik terhadap orang yang pernah menyakitinya, tanpa harus mengubah perasaan yang ada di dalam dirinya.

- Pemaafan Emosional: Langkah di mana individu sepenuhnya menghilangkan perasaan negatif dan tak lagi menyimpan rasa benci atau kecewa terhadap orang yang telah melakukan kesalahan.

Penelitian menyatakan bahwa pengampunan berdasarkan emosi lebih berhasil dalam meredakan bobot emosional serta memperbaiki kesejahteraan mental secara keseluruhan seiring waktu. Di sisi lain, pengampunan yang didasari keputusan bisa membawa kedamaian dengan cepat, namun biasanya belum tentu membersihkan seluruh rasa negatif tersebut.

Memafakan serta Hubungannya dengan Kesejahteraan Jiwa dan Raga

Menurut laporan Antara, Psikolog Meriyati menjelaskan bahwa memberikan pengampunan tidak hanya merupakan perilaku sosial, tapi juga memiliki manfaat untuk kesejahteraan mental dan fisik. Saat individu menimbun kemarahan atau rasa sakit hati, tubuh akan melepas hormon stres seperti kortisol. Dalam durasi waktu yang cukup lama, hal ini bisa berkontribusi pada peningkatan risiko hipertensi, masalah cemas, hingga kondisi depresi.

Sejumlah studi tambahan menunjukkan pula bahwa orang-orang yang dapat berdamai dengan perasaan mereka tendensi untuk memiliki:

- Respon stres yang lebih rendah, dengan tekanan darah dan detak jantung yang lebih stabil.

- Meningkatnya kondisi kesehatan jantung, sebab stres berlebih bisa memperbesar kemungkinan terkena masalah pada sistem kardiovaskular.

- Hubungan sosial menjadi lebih sejuk, berkat hilangnya emosi buruk yang terpendam selama bertemu dengan orang lain.

Langkah-langkah Memaafkan dengan Tulus

Menurut beberapa ahli psikologi, memberikan pengampunan tidak bisa dicapai dalam waktu singkat dan ini adalah sesuatu yang perlu dipraktikkan melalui serangkaian tahapan sebagai berikut:

1. Mengaku dan menyambut perasaan

Jangan tolak rasa marah atau kecewa. Mengakui emosi tersebut merupakan tahap awal dalam proses pelepasannya.

2. Menjaga perspektif positif

Pahami bahwa memberi maaf bertujuan untuk kesejahteraan diri Anda sendiri, bukannya untuk melepaskan orang lain dari tuntutan pertanggunganjawaban mereka.

3. Berusaha menginterpretasikan motif yang mendasari perbuatan manusia lainnya

Ini tidak berarti melegitimasi kesalahan mereka, namun ini membantu kita untuk mengamati situasi dengan perspektif yang lebih lebar.

4. Melatih empati

Bayangkan sekilas bila kita ada di tempat dia, bisakah kita menghindari komitmen melakukan hal serupa?

5. Menyampaikan emosi dengan metode yang baik dan sehat

Dapat dilakukan melalui menulis diari, bercerita kepada teman dekat, atau mengikuti latihan pernapasan relax.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Protest Erupts: Demonstrators Storm Education Ministry, Call for FUOYE VC's Suspension Over Sexual Harassment Claims