Mengungkap Misteri: Kenapa Manusia Punya Jenis Darah yang Berbeda?
UbiNews Air darah merupakan elemen krusial yang diperlukan oleh setiap orang.
Secara mendasar, tiap individu mempunyai kelompok darah tersendiri atau bisa juga dikatakan bahwa tipe darah manusia itu unik dan bervariasi.
Kelompok darah pada manusia terbagi menjadi empat yaitu A, AB, B, serta O.
Masing-masing dari klasifikasi tadi masih dibagi lagi sesuai dengan rhesus proteinnya yakni positif dan negatif.
Pernahkah kamu bertanya-tanya, mengapa hampir setiap orang memiliki golongan darah yang berbeda?
Golongan darah tak sekadar berperan dalam proses tranfusi, namun juga bertugas melindungi tubuh dari beberapa jenis penyakit, seperti halnya dengan malaria.
Perbedaannya tergantung pada antigen yang ditemukan di luar sel darah merah:
Kelompok A mempunyai antigen A.
Kelompok darah B memiliki antibodi B.
Golongan AB memiliki kedua antigen (A dan B).
Golongan O tidak memiliki antigen A maupun B.
Antigen ini memainkan peran penting dalam sistem kekebalan tubuh dan dapat memengaruhi kerentanan seseorang terhadap penyakit tertentu.
Hubungannya dengan Malaria Menurut Dr. Claudia Cohn, Direktur Medis Bank DarahUniversitas Minnesota, Amerika Serikat, kemungkinan besar perbedaan golongan darah manusia terkait dengan perlindungan terhadap malaria.
Pemilik Golongan Darah Mana yang Akan Cenderung Tidak cepat Penuaan? Ini Dia Penjelasannya
Menurut Dr Cohn, data mengungkapkan bahwa penyebab utama kita mempunyai jenis darah yang berbeda adalah karena malaria.
Malaria merupakan suatu penyakit berbahaya yang menyebabkan kematian, mencatatkan angka 627.000 jiwa tewas secara global pada tahun 2020 sesuai data dari CDC.
Malaria parasites membuat sel darah merah yang terserang berkumpul dalam pembuluh darah sempit, mencegah aliran darah serta oksigen menuju otak.
Meskipun demikian, studi mengungkapkan bahwa individu bertipe darah O cenderung mendapatkan proteksi yang lebih besar dari penyakit malaria.
Studi pada tahun 2007 di Proceedings of the National Academy of Sciences menyimpulkan bahwa individu bertipe darah O berpotensi 66% lebih rendah terkena malaria yang serius dibandingkan dengan mereka yang mempunyai tipe darah selain O.
Ini terjadi karena variasi pada bagaimana protein RIFIN yang dihasilkan oleh parasit malaria bereaksi dengan sel darah merah.
RIFIN biasanya melekat dengan lebih baik pada sel darah merah tipe A, namun memiliki afinitas yang kurang terhadap sel darah merah tipe O.
Di luar kelompok darah utama, masih ada aspek lain yang dapat mempengaruhi kemungkinan seseorang mengalami malaria.
Salah satunya adalah antigen Duffy, salah satu dari 15 tipe antigen lainnya yang mungkin terdapat pada lapisan sel darah merah.
Orang tanpa antigen Duffy cenderung lebih resisten terhadap salah satu jenis parasit malaria utama tersebut.
Imunitas ini sering terlihat di area Sub-Sahara Afrika, yang mana menjadi lokasi dengan kasus malaria tertinggi, namun sangat langka di region lainnya.
Walau individu dengan golongan darah O memiliki keunggulan dalam hal ketahanan terhadap malaria, orang-orang bergolongan darah A, B, serta AB masih mendominasi populasi global.
Sejumlah studi mengindikasikan adanya keterkaitan antara jenis darah seseorang dan kemungkinan mereka menderita suatu penyakit.
Misalnya, sebuah studi tahun 2021 dalam BioMed Research International menemukan bahwa orang dengan golongan darah O lebih rentan terhadap kolera, pes, tuberkulosis, dan gondongan.
6 Bahan Herbal Ini Bantu Turunkan Kadar Gula Darah , Cocok untuk Penderita Diabetes
Di sisi lain, orang dengan golongan darah AB lebih mungkin mengalami cacar, infeksi Salmonella, dan E. coli.
Namun, Dr. Cohn meragukan bahwa hubungan ini cukup kuat untuk menjelaskan mengapa kita memiliki golongan darah yang berbeda.
Menurutnya, hubungan antara golongan darah dan penyakit lain belum terbukti secara kausal.
"Malaria merupakan satu-satunya penyakit di mana perbedaan kelompok darah memainkan peranan yang sungguh penting," ujarnya.
Di luar antigen A dan B, terdapat pula zat bernama faktor Rh (Rhesus), yang ditemukan pada permukaan sel darah merah.
Apabila seseorang mempunyai protein tersebut, maka mereka dikenal sebagai Rh positif (misalnya A+ atau B+).
Bila tidak demikian, maka mereka dikenal sebagai Rh negatif. Diperkirakan sekitar 15% populasi Kaukasian, 8% dari orang Afrika Amerika, serta hanya 1% dari etnis Asia yang kekurangan faktor Rh ini, sehingga menjadikan mereka termasuk golongan Rh negatif.
Namun, masih belum diketahui alasan mengapa beberapa individu mempunyai golongan darah Rh negatif.
Studi pada tahun 2012 di jurnal Human Genetics berupaya untuk mengidentifikasi manfaat evolusi dari memiliki golongan darah Rh negatif namun tidak berhasil mendapatkan bukti yang meyakinkan.
Peneliti menarik kesimpulannya jika faktor tersebut sebelumnya memang menghadirkan keunggulan tersendiri dalam perkembangan evolusi manusia. Namun saat ini, nilai positif yang ditawarkannya telah hilang, atau mungkin saja variasi ini hanya produk dari nasib baik secara genetis.
Berdasarkan studi ini, diketemukan bahwa variasi golongan darah pada manusia mungkin telah berevolusi sebagai bentuk pertahanan terhadap beberapa jenis penyakit, khususnya malaria.
Walaupun demikian, masih ada banyak sekali pertanyaan yang belum terpecahkan seputar penyebab ketahanan kelompok darah A, B, dan AB dalam populasi manusia, termasuk juga latar belakang dari keberadaan faktor Rh negatif.
Memahami jenis darah tidak hanya krusial untuk permintaan medis semacam tranfusi, namun juga bisa mengantarkan pemahaman yang lebih mendalam tentang cara evolusi tubuh manusia telah berkembang guna bertahan terhadap aneka macam penyakit.
Jadi, sudahkah kamu tahu golongan darahmu dan apa saja keunggulann serta kelemahannya?
Darah Emas, Jenis Darah yang Paling Jarang Dijumpai di Seluruh Dunia
Buah Segar dan Diabetes: Keuntungan bagi Hipoglikemia, Namun Berhati-hati dengan Kenaikan Gula Darah
9 Alasan Kenapa Tekanan Darah Naik pada Remaja, Mengapa Ya?
Artikel ini sudah dipublikasi di Kompas.com dengan berjudul "Mengapa Kita Memiliki Golongan Darah yang Berbeda?",
Komentar
Posting Komentar