Myanmar Sunyi Sepi Selama 1 Menit, Memperingati Ribuan Korban Gempa
UbiNews , Jakarta - Pihak berwenang di Myanmar menyucikan pikiran selama satu menit sebagai tanda penghargaan terhadap para korban gempa bumi Jumlah orang yang meninggal dunia karena gempa Bumi menjangkau lebih dari 2.700 individu, dengan sekitar 50 anak-anak yang terlibat di sebuah taman kanak-kanak di dekat Kota Mandalay. Acara pengheningan cipta tersebut dilangsungkan pada hari Selasa, tanggal 1 April 2025.
Seperti dikutip dari Al Jazeera Pemimpin militer Myanmar, Jenderal Senior Min Aung Hlaing, menyampaikan dalam pidato bertelevisi pada hari Selasa bahwa total korban meninggal sudah mencapai angka 2.719 orang dan bisa jadi akan melampaui batas 3.000 jiwa. Kota Mandalay yang sedang dilanda musibah di bagian tengah Myanmar merespon dengan bunyinya sirine pada pukul 12:51 sore waktu setempat atau jam 06:21 Waktu Greenwich Mean Time (GMT). Saat itu persis sesaat setelah getaran guncangan bumi dirasakan oleh masyarakat sekitar, menimbulkan keheningan di antara warganya.
Di depan kompleks apartemen Sky Villa, yang menjadi salah satu tempat terserius dari bencana tersebut di dalam kota, tim penjaga penyelamatan mengakhiri misi mereka. Mereka berdiri membentuk barisan sambil menautkan tangan di balik punggung sebagai bentuk penghargaan.
Pejabat serta staf berdiri di belakang formasi, memantau keluarga yang terletak agak jauh. Suara sirene bergema sementara bendera negara Myanmar dikibarkan setengah tinggi pada tiang bambu yang tertambatkan ke struktur penampungan darurat tersebut.
Menurut Min Aung Hlaing, dikhawatirkan bahwa jumlah korban jiwa akan melebihi angka 3.000 orang. Terdapat pula 4.521 luka-luka serta 441 orang lainnya yang dilaporkan sebagai hilang. Dia menyatakan dalam pidato tersebut, “Mayoritas di antara mereka yang dikabarkan hilang kemungkinannya masih selamat sudah sangat tipis.” Hal ini disampaikan seperti yang dilaporkan oleh media. CNA .
Gempa bumi yang terjadi pada hari Jumat sore tersebut adalah guncangan paling kuat yang dialami negeri ASEAN itu dalam lebih dari seratus tahun, menghancurkan candi bersejarah serta struktur kontemporernya. Musibah ini menyebabkan kerugian besar di Kota Kedua Myanmar, yakni Mandalay dan Naypyitaw—ibu kota yang dirancang oleh rezim militer lalu sebagai benteng tak tertembus.
Gempa tersebut merupakan yang terakhir dari sekian banyak tantangan yang dihadapi oleh negeri ini dengan populasi sekitar 53 juta jiwa. Musibah ini semakin memperparah situasi suram Myanmar pasca kudeta tahun 2021 yang membawa militer kembali ke pangkat tertinggi dan merusak ekonominya setelah sepuluh tahun kemajuan.
Perang saudara di Myanmar semakin menyulitkan usaha dalam mencapai para korban luka maupun mereka yang kehilangan tempat tinggal. Menurut Amnesty International, pasukan bersenjata harus memberikan izin agar bantuan dapat masuk ke daerah-daerah negeri yang tak lagi dikuasainya.
“Militer Myanmar memiliki praktik lama menolak memberikan bantuan ke daerah-daerah tempat kelompok-kelompok yang menentangnya aktif,” kata peneliti Amnesty di Myanmar, Joe Freeman dikutip dari Al Jazeera .
“Semua organisasi kemanusiaan harus segera diizinkan mengakses tanpa hambatan dan hambatan administratif yang menghambat penilaian kebutuhan harus dihilangkan.”
Komentar
Posting Komentar