Persiapan Menghadapi Serangan Stroke Setelah Lebaran
Oleh: dr. Asriadi Ali, Sp.N., M.A.P., AIFO-K
Pemimpin Utama Persatuan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia (Perdosni)
Penjabat Muda ICMI di Sulawesi Selatan
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), stroke adalah kondisi di mana terdapat gejala-gejala klinis yang muncul secara perlahan, meliputi defisit neurologi (ketidakmampuan untuk menjalankan fungsi normal sistem saraf) baik itu bersifat lokal (tertentu) maupun umum (melibatkan seluruh bagian).
Gejala tersebut bisa bertahan hingga 24 jam atau lebih, bahkan mungkin mengakibatkan kematian, dan tidak ada faktor pemicu lain kecuali disebabkan oleh kelainan pada pembuluh darah.
Definisi itu mengatakan kalau stroke adalah situasi berbahaya akibat adanya masalah aliran darah menuju otak, sehingga bisa merusak bagian otak secara irreversible. Stroke juga menjadi salah satu pemicu utama kematian serta disabilitas dengan angka tertinggi.
Orang yang terkena serangan stroker bisa dengan cepat dikenali melalui singkatan SeGeRa ke Rumah Sakit yaitu Smiling tidak sejajar, Geste satu sisi badan lemah secara mendadak, Speaking kabur atau tiba-tiba sulit berbicara atau memahami ucapan orang lain, Nyeri mati rasa, Blurry penglihatan, Rasa sakit kepala parah datang tanpa peringatan serta ketidakseimbangan dalam fungsi fisik.
Jangan meremehkan tanda-tanda tersebut, langsung saja bawa orang itu ke rumah sakit karena dibutuhkannya penanganan cepat dan akurat sehingga bagian otak yang terkena kerusakan atau potensial rusak dapat diselamatkan dengan segera.
ternyata stroke pada seseorang bisa dipicu oleh beberapa faktor risiko yang dikelompokkan dalam dua kategori yaitu faktor yang tak bisa diubah dan faktor yang bisa dirubah. Faktor-faktor yang enggak bisa kita ubah meliputi umur (resikonya meningkat seiring berjalannya waktu, terlebih lagi bagi mereka yang sudah melewati usia 55 tahun), jenis kelamin (laki-laki punya peluang lebih besar untuk terserang stroke ketimbang perempuan; walaupun demikian, para wanitalah yang biasanya alami stroke saat memasuki masa tua), serta ada juga riwayat penyakit stroke dari orang-orang dekat dalam satu famili (kalo ada saudara atau kerabat yang udah pernah sakit stroke maka akan menambah resiko individunya).
Kelompok faktor risiko kedua meliputi elemen-elemen yang bisa diubah seperti hipertensi, yaitu kondisi tekanan darah tinggi yang menjadi penyebab utama terjadinya strok.
Mengontrol tekanan darah melalui gaya hidup sehat dan pengobatan dapat mengurangi risiko), diabetes (penderita diabetes memiliki risiko lebih tinggi terkena stroke.
Mengelola level gula darah dengan tepat sangat diperlukan, begitu pula mengontrol tekanan kolesterol tinggi (karena kolesterol tak teratur bisa memicu aterosklerosis dan menambah risiko serangan strok). Selain itu, kebiasaan merokok serta minum alkohol secara berlebihan turut mendorong pertambahan kemungkinan terserang penyakit strok tersebut.
Beberapa hari ini saat perayaan lebaran menjadi momen yang membahagiakan untuk semua anggota masyarakat Muslim memperingati kemenangan usai menunaikan ibadah puasa satu bulan penuh.
Hal ini menyebabkan masyarakat kerap mengadakan perayaan dengan sajian berlemak dan manis.
Hidangan tradisional lebaran seperti konro, coto, pallu basa, opor, rendang, serta aneka kudapan manis mengandung banyak kalori dan bisa menyebabkan gangguan bila dimakan dalam jumlah besar.
Maka dari itu, perlu bagi kita untuk mencegah serangan strok baik terhadap diri sendiri maupun anggota keluarga lainnya. Hal tersebut bisa dimulai dengan membatasi asupan makanan bernilai kalori atau lemak tinggi sebab ada hubungan erat antara level kolestrol tinggi dengan potensi risiko stroke. Penyakit ini juga dapat menimbulkan akumulasi plak pada pembuluh darah serta gangguan sirkulasi darah menuju otak.
Beberapa hal lain seperti mengonsumsi terlalu banyak gula pada hidangan manis dan minuman berkadar gula tinggi, biasa ditampilkan selama Lebaran, bisa menyebabkan kenaikan glukosa dalam darah.
Bagi individu dengan diabetes atau predisposisi terhadap diabetes, hal ini meningkatkan risiko stroke.
Makanan beralkohol dan berkadar garam tinggi yang sering dikonsumsi bisa memicu tekanan darah tinggi.
Hipertensi menjadi penyumbang utama terhadap risiko serangan strok, khususnya pada orang-orang yang mengidap kegemukan. Ketika konsumsi energi meningkat tanpa didukung oleh olahraga secara cukup, hal ini bisa memicu timbulnya kelebihan berat badan atau obesitas; kondisi tersebut pula turut serta dalam menambah resiko seseorang terkena strok.
Stroke bisa dihindari sampai 80 persen dengan mengendalikan elemen-elemen berisiko itu, gaya hidup setelah lebaran sangat mempengaruhi kondisi fisik, secara khusus membawa peningkatan potensi terserang stroke, pemahaman serta langkah-langkah preventif yang sesuai akan menjadikan kita semua merayakan hari raya Idul Fitri ini tanpa harus melupakan kebugaran tubuh.
Komentar
Posting Komentar