Rusia Ingatkan AS: Jangan Ganggu Iran

UbiNews.CO.ID, MOSKOV -- Pemerintah Rusia mengutuk ancaman dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tentang kemungkinan melakukan serangan militer ke Iran. Kota Moskow menyampaikan peringatan bahwa langkah seperti itu bisa membawa dampak 'sangat merusak' kepada wilayah tersebut.

Wakil Menteri Luar Negeri Sergei Ryabkov, pada suatu percakapan dengan majalah Rusia International Affairs ,mengomentari penggunaan ancaman dan ultimatum setelah Trump memperingatkan akan serangan militer terhadap Iran kecuali Teheran menerima tawaran kesepakatan baru dengan Washington.

Ryabkov menggambarkan ultimatum Trump sebagai bagian dari strategi yang lebih luas oleh Washington untuk memaksakan kehendaknya terhadap Iran.

"Menurutnya, metode itu dianggap tak sesuai; mereka mengecamnya dan menginterpretasikannya sebagai upaya Amerika Serikat untuk mendesak kemauannya terhadap Iran," sebut pernyataan tersebut yang dikutip dari situs web tersebut. IRNA .

Duta besar Rusia tersebut menekankan pentingnya pendekatan diplomatik, mendorong segala pihak agar berupaya mencapai suatu kesepakatan yang adil demi mencegah pertambahan konflik sementara masih terdapat ruang untuk hal itu. Pemerintah di Moskow dengan sukarela menyatakan siaga sebagai mediator antara Amerika Serikat dan Iran.

Pada 12 Maret, Trump mengirim surat ke Iran melalui utusan dari Uni Emirat Arab (UEA). Meskipun isi surat itu belum diungkapkan sepenuhnya, Trump mengatakan bahwa ia telah mendesak Iran untuk merundingkan 'kesepakatan baru' dan memperingatkan potensi aksi militer jika Teheran menolak.

"Apabila tak tercapai kesepakatan, akan ada serangan bom," ujar Trump saat diwawancarai oleh NBC News pada akhir pekan ini.

Pada periode kepresidenannya yang pertama, Trump tanpa berkonsultasi mengeluarkan Amerika Serikat dari kesepakatan lama dengan Iran kemudian menerapkan kembali sanksi ekonomi besar-besaran kepada negeri itu.

Iran merespons surat dari Trump lewat Oman. Minggu ini, Presiden Masoud Pezeshkian menyampaikan bahwa Iran, dalam balasan mereka, sudah menolak negosiasi langsung dengan Amerika Serikat saat berada di bawah tekanan. Meskipun demikian, dia juga menegaskan bahwa pembicaraan taklangsung masih bisa dipertimbangkan.

Ia menekankan bahwa perilaku AS akan membentuk jalannya perundingan, dengan mencatat bahwa sejarah pelanggaran komitmen Washington telah mengikis kepercayaan antara kedua belah pihak.

Pejabat Iran menganggap negosiasi dengan Inggris, Prancis, dan Jerman—penandatangan kesepakatan nuklir 2015—sebagai pembicaraan tidak langsung dengan Amerika Serikat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Protest Erupts: Demonstrators Storm Education Ministry, Call for FUOYE VC's Suspension Over Sexual Harassment Claims