Tenang di Hati: Kisah Permintaan Maaf dan Pengampunan yang Menghangatkan Antara Sesama

Idul Fitri adalah momen yang dirayakannya setelah sebulan penuh berpuasa pada Bulan Suci Ramadan, yaitu selama tiga puluh hari. Setiap individu turut serta dalam menyambut dan memperingati kegembiraan hari tersebut.

Idul Fitri sering dikaitkan pula dengan kegiatan mudik, istilah lainnya adalah pulang kampung. Waktu itu biasanya dipergunakan untuk bertemu dengan kerabat dan relasi keluarga yang telah lama tak bersua.

Ajang ini pun menjadi kesempatan untuk bertemu, mengampuni, serta berbagai kebahagiaan antar sesama dalam bentuk amplop THR. Semua ritual tersebut adalah budaya yang telah lestari dari generasi ke generasi. Ia takakan pudar dan senantiasa dipertahankan oleh masyarakat setiap tahunnya.

Akan tetapi, esensi dari Idul Fitri ialah kembalinya kesucian kita, sebagaimana layaknya bayi yang baru lahir di dunia ini. Melalui bulan Ramadhan, ini menjadi waktu bagi manusia untuk mengasah diri dalam berbagai aspek kehidupannya.

Setelah menyelesaikan ibadah puasa Ramadan selama sebulan penuh, seseorang akan merasakan kebangkitan baru serta menerima imbalan pahala yang sangat besar. Ciri dari individu ini ialah bahwa meskipun Ramadan telah berlalu, mereka justru menjadi lebih disiplin dalam menjalankan salat lima waktu dengan teratur dan mempertahankan amalan-amalan ibadah lainnya tanpa henti.

Saling Memberi Maaf dan Meminta Maaf

Sebagian besar orang merasa minta maaf itu lebih susah daripada memberi pengampunan. Kenapa? Karena permohonan maaf memerlukan kebrlian untuk mengaku salah serta merendahkan egomu sehingga dapat menyembuhkan suatu hubungan yang telah retak atau menjadi tidak harmonis.

Banyak orang yang enggan atau takut untuk mengucapkan permintaan maaf dengan cara langsung tanpa bantuan pihak ketiga. Umumnya saat terjadi perselisihan, sering kali muncul seorang mediator yang membantu kedua belah pihak dalam proses minta maaf serta memberi kesempatan bagi mereka untuk saling mengampuni.

Sejauh masih ada rasa malu dan harga diri yang sangat kuat, akan susah untuk menemukan kedamaian. Meski begitu, kita cenderung mempertahankan keyakinan pada semua jenis kebenaran walaupun sesungguhnya itu keliru. Namun, kita tak boleh menghakimi karena mayoritas orang berperilaku seperti ini saat terjadi perselisihan atau ketika sedang dalam masalah.

Meminta maaf dengan mengakui segala kesalahan dan kekhilafan kita sebagai manusia, itu lebih mulia posisinya dibanding dengan orang yang memberikan maaf. Mengapa? karena hal itu mudah untuk diucapkan tapi sangat sulit untuk mempraktekkannya di kehidupan kita sehari-hari. Percaya atau tidak, kita bisa intropeksi diri sendiri karena saya sendiri masih belajar untuk melakukan hal yang mulia ini.

Seseorang yang mampu menunjukkan pengertian terhadap pribadi yang sudah mengaku melakukan kesalahan, tentunya bukanlah hal yang ringan bagi mereka untuk dapat berbuat demikian. Sebagai contoh dalam situasi perundungan, sering kali dibandingkan oleh para ahli psikologi dengan selembar kertas putih yang tetap bersih, tertata rapi serta belum pernah disentuh siapa pun.

Namun bila kertas tersebut dirobek sebagian pada satu sisinya, lantas robekan itu dipindahkan ke sisi lain sehingga hampir seluruh bagian kertas memiliki jejak kerusakan akibat tangan atau oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab. Maka pertanyaannya menjadi: Bisakah kertas itu pulih seperti aslinya? Bersama-sama kita berteriak dengan suara keras "TIDAK DAPAT".

Demikian pula ketika kita bertindak dan berbicara dengan lawan bicara, kita perlu berhati-hati dan mampu memahami lingkungan sekitar kita. Jangan sampai emosi dan egomu membawa dirimu ke kerugianmu sendiri serta membuat kamu menyesali tindakan atau kata-kata yang dapat menyakiti orang lain.

Di saat Idul Fitri kali ini, marilah kita berbuat taubat secara sungguh-sungguh serta disertai oleh niat yang ikhlas. Mari pengakuian akan kekeliruan dalam tingkah laku, perilaku, dan perkataan kita terhadap pihak yang hendak kita minta ampun daripadanya. Dengan niat yang sebenar-benarnya dan sungguh-sungguh, Allah Yang Mahamengetahui tentang hal-hal yang tak dapat kita lihat, bahkan isi hati kita sendiri.

Tapi kita harus ingat bahwa meminta maaf dengan sungguh-sungguh, berarti kita tidak akan mengulangi perbuatan dan sikap itu di kemudian hari. Itu sama hal dengan sebuah janji yang kita ucapkan dengan sungguh-sungguh dan dalam keadaan sadar, maka dibutuhkan pertanggung jawabannya jika kita melanggarnya.

Ingatan saya tersisa tentang sebuah insiden di lingkungan pekerjaan. Seorang pegawai membuat suatu kesalahan ringan namun dia berulang kali minta maaf kepada sesama kolega serta kepada sang supervisor. Hal tersebut terjadi sekali lagi dan manajer pun segera mengeluarkan peringatan yang tak pernah saya duga bakal setegas itu.

"Maaf, Maaf, Maaf... Itu senjata kamu kalo melakukan kesalahan" ujar atasan dengan nada yang menekan tapi masih sopan dan berintonasi tegas.

Teman saya ini hanya menunduk dan diam.

"Jangan kamu anggap maaf itu gampang ya!" ujar Atasan

"Harganya terlalu rendah untuk memaafkanmu!" katanya tajam. "Aku sangat membencai mereka yang meremehkan kata 'maaf', kalian membuatnya terlalu tidak berharga," lanjut sang atasannya.

"Atau minta maaf dengan tulus. Ini menandakan bahwa Anda berkomitmen untuk tidak melakukannya lagi. Baru benar begitu!" kata Si Atasan.

"Mengerti Pak," balas sahabatku.

Hindari berkata 'Maaf' apabila tak memahami maknanya.

Saya sependapat bahwa permohonan maaf harus ditujukan secara tulus tanpa sekadar ingin menyingkirkan beban atau berpura-pura kejadian itu tak ada. Hal tersebut tentunya adalah kesalahan, oleh karena itu hindari melakukan hal demikian serta jangan sampai mengulanginya. Tetaplah menggunakan akal sehat saat membuat keputusan dan bertindak dengan penuh niat baik.

Pada saat memperingati Hari Raya Idul Fitri kali ini, betul sekali jika kita berusaha mohon maaf secara tulus kepada setiap individu, bahkan terhadap mereka yang sudah terluka akibat perkataan atau tindakan kita, entah itu dilakukan dengan sengaja ataupun tanpa niat.

Membuka pintu ampunan selebar-sebabarnya saat hari raya Idul Fitri sangat menguntungkan bagi diri sendiri. Kita tak hanya memperoleh ganjaran kebaikan tetapi juga dapat merasakan ketenangan dalam menjalani kehidupan di dunia ini tanpa beban akibat meninggalkan konflik, permusuhan serta masalah dengan orang lain.

Ayo kita bergerak bersama untuk menyucikan hati, pikiran, dan perilaku kita dengan sesuatu yang bermanfaat dan penuh kebaikan pada hari raya kali ini. Tidak usah ragu atau minder untuk menjadi yang pertama mengajukan permohonan maaf, seseorang yang jujur akan tercermin melalui tingkah lakunya. Di sisi lain, mereka yang kurang ikhlas cenderung menciptakan dalih dan tertutup karena tak mau keliatan kalah atau khawatir seolah lebih rendahan apabila mendahului dalam memberikan pengampunan.

Perhatikan, tindakan tersebut sangat TIDAK benar. Jangan kamu mengikuti perilaku si jin yang merendahkan diri di hadapan Nabi Adam saat Tuhan memerintahkan makhluk-Nya untuk sujud kepadanya. Mengampuni satu sama lain adalah pilihan yang lebih indah daripada mencari konflik atau perselisihan sehingga hubungan harmonis menjadi rusak.

Mengputuskan hubungan keluarga adalah suatu tindakan yang ditolak keras oleh Allah dan Rasul-Nya Muhammad. Kadang masalahnya sederhana namun karena ketidakmampuan untuk mengalah serta dipicunya ego yang besar, konflik dan permusuhan sering kali muncul dan hal ini bisa dilihat dalam berbagai insiden di lingkungan kita.

Ayo kita s ambil kesempatan di hari Idul Fitri ini untuk merayakannya dengan penuh kegembiraan serta sama-sama memberi maaf. Jika Tuhan sudah bersedia mengampuni hamba-Nya, bukankah kita sebagai makhluk biasa harus lebih bisa lagi saling memaafkan?

Memulai dengan permintaan maaf dan penghargaan adalah hal yang sangat bermanfaat. Mari kita mulaiki ini dari dalam diri kita terlebih dahulu. Setelah itu, semakin banyak orang yang kita ampuni, dampak positif tersebut akan merembet ke sekitar kita sehingga membuat mereka juga mengikuti contoh kita dengan bersama-sama saling memaafkan.

Salam Inspirasi, Irfan Fandi

Jambi, 01 April 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Protest Erupts: Demonstrators Storm Education Ministry, Call for FUOYE VC's Suspension Over Sexual Harassment Claims